Al-Mutanaffas, Najmus Shobah and Sunarto, Muhammad Zainuddin (2026) Konstruksi Sosial Pernikahan Antarsuku dalam Masyarakat Muslim Indonesia: Analisis Hukum Islam dan Budaya Lokal. USRAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 7 (2). ISSN 2747-1403
|
Text
5_6233534985874186167.pdf - Published Version Restricted to Registered users only Download (247kB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial pernikahan antar suku dengan menganalisis bagaimana adat, budaya, hukum Islam, serta prinsip-prinsip filsafat hukum berinteraksi dalam membentuk legitimasi sosial pernikahan lintas suku di Indonesia. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana masyarakat menafsirkan nilai, norma, dan identitas budaya dalam praktik pernikahan antar suku, serta bagaimana nilai keadilan, kebebasan, dan kemaslahatan yang menjadi dasar filsafat hukum memberi landasan normatif terhadap penerimaan praktik tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis literatur, penelitian menemukan bahwa pernikahan antar suku memunculkan dualitas konstruksi sosial: dipandang sebagai bentuk integrasi sosial sekaligus menghadirkan resistensi budaya terkait keturunan, kesesuaian adat, dan identitas kelompok. Adat berfungsi sebagai regulator sosial yang kuat melalui ritual, simbol, dan sanksi sosial, sementara hukum Islam memperbolehkan pernikahan antar suku selama rukun nikah terpenuhi. Namun secara filosofis, hukum menuntut keseimbangan antara penghormatan adat, keadilan substantif, dan hak individu memilih pasangan. Temuan lapangan memperlihatkan bahwa konflik nilai terkait peran gender, pola komunikasi, serta pendidikan anak menuntut negosiasi sosial dan etis yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, pernikahan antar suku merupakan arena pertemuan nilai tradisional dan prinsip filsafat hukum yang menuntut harmoni antara budaya, norma hukum, dan kemaslahatan keluarga.
The social construction of interethnic marriage by analyzing how customary norms, cultural practices, Islamic law, and principles of legal philosophy interact in shaping the social legitimacy of such marriages in Indonesia. The purpose of this research is to understand how society interprets values, norms, and cultural identities in interethnic marriage practices, as well as how the philosophical foundations of law such as justice, freedom, and public benefit provide normative support for their acceptance. Using a qualitative approach through literature analysis, the study finds that interethnic marriage produces a dual social construction: it is viewed both as a form of social integration and as a source of cultural resistance related to lineage, adherence to customary norms, and group identity. Customary law functions as a strong social regulator through rituals, symbolic values, and social sanctions, while Islamic law permits interethnic marriage as long as the fundamental legal conditions of marriage are fulfilled. Philosophically, however, law requires a balance between respecting tradition, ensuring substantive justice, and protecting individual rights to choose a spouse. Field findings show that value conflicts regarding gender roles, communication patterns, and childrearing practices demand continuous social and ethical negotiation. Overall, interethnic marriage represents an arena where traditional values and legal philosophical principles converge, requiring harmony between culture, legal norms, and family welfare.
| Item Type: | Article |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | pernikahan antar suku, konstruksi sosial, adat dan budaya, hukum Islam , negosiasi sosial interethnic marriage, social construction, customary law and culture, Islamic law, social negotiation |
| Subjects: | K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Fakultas Agama Islam > S1 Hukum Keluarga |
| Depositing User: | Unnamed user with email najmusafas@gmail.com |
| Date Deposited: | 19 Aug 2026 08:41 |
| Last Modified: | 02 Sep 2026 03:46 |
| URI: | https://repository.unuja.ac.id/id/eprint/4392 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
