RELASI ANTARA KEKUASAAN, KEMEWAHAN, DAN ETIKA PUBLIK DALAM TAFSIR AL-QUR’AN: ANALISIS PEMIKIRAN SAYYID QUTB DAN HAMKA

Rizqi, Ahmad Fatih (2026) RELASI ANTARA KEKUASAAN, KEMEWAHAN, DAN ETIKA PUBLIK DALAM TAFSIR AL-QUR’AN: ANALISIS PEMIKIRAN SAYYID QUTB DAN HAMKA. Other thesis, Universitas Nurul Jadid.

[thumbnail of Revisi Naskah Final.pdf] Text
Revisi Naskah Final.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Maraknya penyalahgunaan kekuasaan, praktik korupsi, serta gaya hidup mewah di kalangan pejabat publik menunjukkan adanya krisis etika dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bertentangan dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penafsiran Sayyid Qutb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān dan Hamka dalam Tafsir Al-Azharterhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan kekuasaan, kemewahan, dan etika publik, serta mengidentifikasi persamaan, perbedaan, dan relevansi pemikiran keduanya dalam konteks pejabat publik kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode tafsir muqāran (komparatif). Data diperoleh melalui studi dokumentasi terhadap Fī Ẓilāl al-Qur’ān dan Tafsir Al-Azharsebagai sumber primer, serta berbagai literatur yang relevan sebagai sumber sekunder, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran Sayyid Qutb dan Hamka tidak hanya terletak pada corak penafsiran, tetapi juga dipengaruhi oleh latar belakang sosial, politik, dan intelektual masing-masing mufassir. Sayyid Qutb menekankan kekuasaan sebagai amanah ilahiah yang harus ditegakkan berdasarkan prinsip hakimiyyah Allah serta mengkritik secara tegas penyalahgunaan kekuasaan dan budaya kemewahan (mutrafūn) sebagai penyebab kerusakan sosial. Sebaliknya, Hamka lebih menonjolkan dimensi moral, kultural, dan pendidikan dengan menekankan amanah, keadilan, musyawarah, kesederhanaan, dan keteladanan sebagai fondasi etika kepemimpinan. Meskipun memiliki pendekatan yang berbeda, kedua mufassir sama-sama menegaskan bahwa kekuasaan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah dan masyarakat, sedangkan kemewahan yang mendorong kesombongan dan pengabaian terhadap kepentingan rakyat bertentangan dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Sayyid Qutb dan Hamka saling melengkapi serta tetap relevan sebagai landasan etika publik dalam membangun kepemimpinan yang amanah, adil, dan berintegritas di tengah tantangan pemerintahan kontemporer.

Item Type: Thesis (Other)
Uncontrolled Keywords: Tafsir Muqāran, Sayyid Qutb, Hamka, Kekuasaan, Kemewahan, Etika Publik.
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > S2 Studi Islam
Universitas Nurul Jadid > Pascasarjana > S2 Studi Islam
B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
Divisions: Fakultas Agama Islam > S1 Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Depositing User: Unnamed user with email rizqifatih555@gmail.com
Date Deposited: 18 Oct 2026 05:49
Last Modified: 18 Oct 2026 05:49
URI: https://repository.unuja.ac.id/id/eprint/4880

Actions (login required)

View Item View Item